Postingan

Heboh! Batu Mirip Wajah Manusia di Dekat Pohon Angker

Gambar
Sabtu, 28 Februari 2015 , 00:09:00 Heboh! Batu Mirip Wajah Manusia di Dekat Pohon Angker Sejumlah warga melihat batu yang berukir wajah manusia yang diduga hasil peninggalan zaman dulu tersebut, Kamis (26/2). Foto: Oryza Pasaribu/Metro Tabagsel/JPNN TAPSEL  – Penemuan sebuah batu ukiran membentuk mirip wajah manusia menghebohkan warga Desa Purba Tua, Kecamatan Tantom Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut. Batu aneh itu ditemukan di sebuah hutan di pinggiran aliran anak sungai Batu Nabontar, yang berjarak sekitar 400 meter dari pemukiman masyarakat setempat, Sabtu (21/2). Namun hingga kemarin, warga masih berdatangan karena penasarn. Kepala Desa setempat, Benson Simanjuntak (37) menceritakan, penemuan batu tersebut berawal dari adanya warga sekitar yang datang ketempat itu untuk mengambil bambu. Rupanya bambu yang sudah dipotong jatuh persis di atas batu yang ditemukan. Ketika mereka membersihkan batang bambu itu, tanpa sengaja parang yang mereka gunakan mengenai bagian batu yang masih t...

Mandailing Natal Dapat Dukungan Tympanum Penetapan Cagar Budaya

Gambar
Mandailing Natal Dapat Dukungan Tympanum Penetapan Cagar Budaya 08/04/2015 Panyabungan Sumut 7/4 – Situs Candi Simangambat di Kec. Siabu merupakan salah satu dari Situs Bagas Godang dan Padang Mardia yag akan mendapatkan dukungan penetapan cagar budaya di Kabupaten Mandailing Natal. Pemkab. Madina melalui Dinas Pemuda Olah Raga Budaya Pariwisata (Disporabudpar) melalui Kemendikbud agar cagar Budaya diusulkan Tim Tympanum turun ke titik lokasi Candi Simangambat yang berada di Kel. Simangambat Kec. Siabu melakukan pengukuran, identifikasi, pencatatan serta rekam objek yang langsung dikoordinir Askolani didampingi Rizki Rafsanjani. Dia menegaskan Candi Simangambat dibangun dengan struktur batu merah pada bagian dalam candi dan batu pasir pada bagian luar bahkan ditemukan juga Struktur batu berhias serta patung kepala kala. “Candi Simangambat mirip dengan Candi Sewu di Jawa Tengah diyakini Candi ini sudah ada sejak abad ke 9 sampai Abad ke 10 Masehi pada masa Hindu Budha klasik,” katanya. ...

Satu Situs Candi Ditemukan di Mandailing Natal

Gambar
Satu Situs Candi Ditemukan di Mandailing Natal     Posted by:  Dahlan Batubara (Redaksi)    25/12/2015 Askolani dan tim Tympanum Novem saat memeriksa bongkahan material situs di hutan Simaninggir SIABU (Mandailing Online)   – Satu lokasi yang diduga satu situs candi ditemukan di hutan Simaninggir, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal. Bongkahan jenis batu bata itu ditemukan Budayawan Mandailing dari Tympanum Multi Media, Askolani Nasution dan kawan-kawan, Jum’at (25/12). Lokasi temuan berada pada titik koordinat 1.021337, 99.502128. Titik situs ini awalnya ditemukan para pekerja jalan ketika ada aktivitas pembukaan jalan hutan di kawasan itu. Oleh pekerja dan penduduk setempat melaporkannya kepada Askolani Nasution. “Bongkahan ini diyakini bersumber dari kedalaman tiga meter. Bongkahan terdiri dari dua jenis bata dan batu andesit. Ukuran bata sama dengan ukuran pada jenis candi Budha klasik,” ungkap Askolani dalam satu statusnya di akun facebook. Dik...

Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu Posted by:  Dahlan Batubara (Redaksi)   in  Seputar Madina   16/05/2014 0 PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tympanum Novem Film sejak pekan lalu memulai penggarapan video situs-situs peninggalan Mandailing masa lampau. Tiga situs yang direkam video pada Kamis (15/5/2014) meliputi situs reruntuhan candi di Saba Biara, Pidoli; situs yang diduga reruntuhan candi di Padang Mardia, Hutasiantar dan Menhir di Runding satu peninggalan dari zaman batu. Situs-situs tersebut sangat bernilai tinggi dalam menggali sejarah peradaban Mandailing dari zaman batu hingga era Hindu dan Islam. Askolani Nasution dari Tympanum Novem Film mengatakan Jum’at (16/5) situs Menhir di Runding merupakan peninggalan dari zaman batu, jauh sebelum manusia mengenal peralatan dari perunggu. Di lokasi ini masih ditemukan “kursi batu” dengan pahatan amat sederhana, dangkal estetika, hanya berorientasi kepada fungsi, bukan k...

HUTA SIALLAGAN (AMBARITA)

Gambar
HUTA SIALLAGAN (AMBARITA) Oleh: Uli Kozok 23 September 2014: Kepada mereka yang tempohari ikut nimbrung di FB Saut Situmorang soal Huta Siallagan – perkampungan yang dikelilingi batu besar termasuk di antara Batu Persidangan yang konon dipakai sebagai tempat eksekusi hukuman mati. Berbagai cerita yang sedap-sedap ngeri disajikan kepada para wisatawan yang berkunjung kepada situs tersebut. Antara lain diceritakan bahwa situs megalit tersebut berusia 300 tahun, dan bahwa para tahanan dieksekusi di situ dengan cara yang paling kejam. Ini keterangan yang saya peroleh dari Bapak Jean-Pierre Barbier-Mueller yang di antara tahun 1974 dan 1978 beberapa kali singgah di Huta Siallagan untuk mewawancarai penduduk: Awalnya, di sekitar tahun 1920an, hanya ada satu batu di Huta Siallagan yang selalu kalah dengan batu Raja Sidabutar di Tomok. Kesal karena para wisatawan hanya berkunjung ke Tomok maka Raja Hendrik Siallagan mulai membangun berbagai jenis pahatan batu termasuk patung, kursi, dan meja....

SEJARAH HARUS DITULIS ULANG: Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara

Gambar
SEJARAH HARUS DITULIS ULANG Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara Oleh: Edward Simanungkalit *            Sumatera Utara merupakan sebuah wilayah yang didiami oleh berbagai etnis yang populasi etnis tersebut cukup banyak. Di sebelahnya Provinsi Aceh, Provinsi Riau, dan Provinsi Sumatera Barat. Di Sumatera Utara sendiri terdiri dari 8 etnis, yaitu: Melayu, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, “Batak” Toba, dan Nias. Pakpak, Karo, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing disebut oleh para antropolog sebagai “Batak”, bahkan ada penulis sejarah “Batak” berusaha menjadikan Nias sebagai bagian dari “Batak”. Akan tetapi, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, dan Nias tersebut keberatan disebut “Batak”. Secara khusus,  Pakpak sangat keberatan disebut “Batak” melampaui etnis lainnya, karena arti kata “Batak” itu sendiri dalam bahasa Pakpak adalah “babi”, sehingga mereka sangat keras menolak disebut “...