Postingan

Menampilkan postingan dengan label Angkola

KETIKA TOBA BERUBAH JADI BATAK

Gambar
KETIKA TOBA BERUBAH JADI BATAK Oleh: Edward Simanungkalit * Orang Toba Berdiam di Toba Na Sae Sejak kecil, penulis memahami diri sendiri sebagai Halak Toba atau Orang Toba pada paruh kedua tahun 1960-an. Itu yang penulis ketahui dari para orangtua di lingkungan penulis di saat berada di Kabupaten Dairi. Para orangtua sering berkata: “Anggo adat ni hita, halak Toba, asing do adatna tu adat ni dongan Pakpak manang dongan Karo.” i.e. : “Kalau adat kita, orang Toba, berbeda dengan adat dari saudara kita, Pakpak maupun Karo.”. Begitu kira-kira disampaikan, sehingga terlihat kontras antara Orang Toba dengan Orang Pakpak maupun Orang Karo, yang jelas memberikan identifikasi diri bahwa diri penulis adalah Halak Toba atau Orang Toba. Demikian juga, ketika penulis berada di daerah Karo, maka ketika menyebut marga penulis, maka Orang Karo menyebut penulis: “O’ kalak Tebba.” Begitu juga Orang Pakpak menyebut penulis: “Kalak Tebba”. Kedua perkataan ini artinya: “Halak Toba” atau “Orang Toba”. Jadi,...

KETIKA BELANDA MENCIPTAKAN SI RAJA BATAK: Membaca Disain Besar Belanda dalam Melebur Non-Melayu Menjadi Batak

Gambar
KETIKA BELANDA MENCIPTAKAN SI RAJA BATAK Membaca Disain Besar Belanda dalam Melebur Non-Melayu Menjadi Batak                                                                        Oleh: Edward Simanungkalit             Toba Na Sae merupakan daerah yang didiami Orang Toba sebagaimana dikemukakan oleh Sitor Situmorang di dalam bukunya: “TOBA NA SAE: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX” (2009:3-18). Toba Na Sae, yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang tersebut, meliputi daerah Samosir, Humbang, Toba Holbung, dan Silindung. Toba Na Sae ini disebut dalam bahasa Melayu: “ Negeri Toba ” sebagaimana dapat dilihat pada stempel Raja Singamangaraja XII yang berbunyi: “Maharaja di Negeri Toba ”. Di dalam buku: “SEJARAH RAJA-RAJA BARUS: Dua Naskah Dari Barus” (...

MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK: Sebuah Strategi Belanda dalam Pembatakan Non-Melayu

Gambar
MEMBONGKAR MITOS SI RAJA BATAK Sebuah Strategi Belanda dalam Pembatakan Non-Melayu Oleh: Edward Simanungkalit *   Tebing di Sianjur Mulamula, Samosir (Sumber: http://solutourandtravel.blogspot.co.id)  : Sundaland dalam Ilmu Pengetahuan Modern Setelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu yang memusnahkan hampir semua manusia dan kalderanya menjadi Danau Toba, maka terjadi kembali migrasi manusia dari Afrika ke Sundaland di sekitar 70.000 tahun lalu. Mereka bermigrasi menyusuri pesisir pantai melalui India Selatan sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Stephen Oppenheimer dari Oxford University, Inggris, yang dikenal menulis buku: “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1999). Dia menulis buku ini setelah memimpin proyek besar yang dipercayakan HUGO (Human Genome Organizatioan) melakukan pemetaan DNA manusia sedunia (Kompas, 20/10-2011). Kemudian 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organization (HUGO) memetaka...